TEXT MESSAGE ON NATIONAL EDUCATION DAY Commemoration Ceremony DATE 2 MAY 2010UPACARA WARNING Education Day
DATE 3 MEI 2010
Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Let us praise praise the presence of Almighty God, who has given us the opportunity to implement the National Education Day Commemoration Ceremony (Education Day). At this opportunity we also use to hold a family friendship colleagues at our beloved institution.
Ladies and Gentlemen!
Each dated May 2 is celebrated as National Education Day, which is often abbreviated as Education Day. For this year's Education Day takes the theme of Education Science, Technology and the Arts Ensure Sustainable Development and Enhancing Competitiveness Nations.
Dated May 2 is the birthday of Ki Hajar Dewantara, who was born in Yogyakarta on May 2, 1889. Ki Hajar Dewantara is the Indonesian independence movement activist and founder of College Student Park. Establishment of institutions that are home to native to get an education as well priayi obtained the Dutch community in Indonesia.
See displayed on the Education Day theme this time, we're actually proud of the success of the nation's children who have won many Olympic gold medals in a variety of science abroad. Indonesian children do not lose and even often be the best in each Science Olympiad held various international bodies.
Unfortunately, until now the quality of education in Indonesia has not been equitable. We can not equate the quality of education in Papua and in Surabaya. Or, Kalimantan Bandung or comparison with others. In fact, in one province alone, the quality of one school with another school very much difference. Therefore, we can understand in a certain college students only from a particular school too, because here the quality of the primary.
In the national exam (UN), which had lasted for high school and junior high level, just recently, we certainly have touched to hear the principal involvement of leaking the answers to the UN. Leak the answers to the UN chief made the school, because they do not want many children who do not pass the national examination students, so the school has declined so its image in the eyes of society.
What does the head as if it should open our eyes all that there are efforts to cover the depravity of the quality of education by people who should be the leader in improving education quality. Undertaken by the principal who leaked examination answers to these questions will make the quality of education in Indonesia is worse off. Moreover, if it is done by the school principal in an area that is still very low quality of education. As a result, the quality of education will decrease.
Facing today's globalization era, we must realize the quality of the Indonesian nation must continue to improve. If not, then foreign workers will rule our country. They will occupy important positions, while Indonesia only as a regular employee.
Low quality of education that make this nation can not afford to compete with other nations. Obviously, we do not want this nation can not compete with other nations. The quality of education in this country do not we let the drowning just because the school wanted to maintain their prestige by giving the UN leaked exam questions to the students. Providing proper education alone does not necessarily improve the quality of school students, let alone teach them to cheat, just to name the school. Make a school known for its quality, not because of successful graduate students in quantity, but quality is low.
Not yet dry saliva we are talking about a nation that at the end of civilization raises the multidimensional crisis hit this country, to make us realize that so far we are away from character education. Character education is very important for people who claim this polite, courteous walau.sesungguhnya distant from essence. Let's take a moment to extend his eyes staring straight ahead, how many are actually punished law enforcement, how many public servants who actually asked to be served. This is all a result of character education is neglected.
Due to lack of character education, do not be surprised if policy makers, always take a policy that is not wise, especially duping the public is also exhibited systematically by their prospective policy makers. And not infrequently the majority of our society are still swayed by promises of the candidates if they are elected policy makers then life will be better for everyone.
Indeed the question above, starting from the dienyam education in school in Indonesia is far from the character of the nation. Party government as education policy makers and other educators as policy implementers have not taught him many important lessons about the character to their students.
According to the authors, in implementing character education, most primary schools must be taught to all students is the spirit to go forward which is marked by a passion for learning. Schools should have warned his students that their lives as individuals or as a society will never achieve meaningful progress if they do not strive to constantly learn new things and work hard to get what they dreamed of.
Reality is there for precisely this fact far from the fire and make us "ngelus chest" (kebangeten: borrow the words of my mother). Mental co-opted most of the policy makers of our society, that want to get things the easy way. Therefore, we often forget all the rules and justifies every means, no matter violate rules and norms. long as I can achieve anything the easy way, "why not", Sad to hear it.
The above condition is marked by cheating behaviors while letting the UN and to continue corruption and collusive behavior in the workplace. Our nation is longing for the life of the country like a thousand and one nights, where a "lamp light" to solving any problem. Unlike other nations where education is needed to work hard, never give up in despair do not know, and that was instilled from an early age. The parents and teachers, hand in hand to train the children to their nations to be independent, responsible, and solve their own problems.
So welcome from me, hopefully the momentum Education Day implementation of character education. If there is in the delivery kesalahnan I apologize.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Senin, 07 Juni 2010
PIDATO UNTUK MBAK EMA VERSI INDONESIA
TEKS SAMBUTAN PADA UPACARA PERINGATAN HARI PENDIDIKAN NASIONAL TANGGAL 2 MEI 2010UPACARA PERINGATAN HARDIKNAS
TANGGAL 3 MEI 2010
Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk melaksanakan Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Pada kesempatan yang baik ini kita gunakan pula untuk mengadakan silaturahim kekeluargaan sejawat di lembaga yang kita cintai ini.
Hadirin yang saya hormati!
Setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, yang sering disingkat dengan Hardiknas. Untuk tahun ini Hardiknas mengambil tema Pendidikan Sains, Teknologi dan Seni Menjamin Pembangunan Berkelanjutan dan Meningkatkan Daya Saing Bangsa.
Tanggal 2 Mei adalah hari kelahiran Ki Hajar Dewantara, yang lahir di Yogyakarta tanggal 2 Mei 1889. Ki Hajar Dewantara adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia dan pendiri Perguruan Taman Siswa. Lembaga pendidikan yang didirikannya itu merupakan tempat bagi pribumi untuk mendapatkan pendidikan seperti yang diperoleh para priayi serta masyarakat Belanda di Indonesia.
Melihat tema yang ditampilkan pada Hardiknas kali ini, kita sebenarnya bangga dengan keberhasilan anak-anak bangsa yang telah banyak meraih medali emas dalam berbagai olimpiade sains di luar negeri. Anak-anak Indonesia tidak kalah dan bahkan sering menjadi yang terbaik dalam setiap olimpiade sains yang diselenggarakan berbagai badan internasional.
Sayangnya, hingga saat ini mutu pendidikan di Indonesia belum merata. Kita tidak mungkin bisa menyamakan kualitas pendidikan di Papua dengan di Surabaya. Atau, Kalimantan dengan Bandung atau perbandingan lainnya. Bahkan, dalam satu provinsi saja, kualitas satu sekolah dengan sekolah lainnya sangat jauh perbedaannya. Oleh karena itu, kita bisa maklum di perguruan tinggi tertentu mahasiswanya hanya berasal dari sekolah tertentu pula, karena di sini kualitas menjadi yang utama.
Dalam ujian nasional (UN) yang sudah berlangsung untuk tingkat SMA dan SMP, belum lama ini, tentunya kita terenyuh mendengar ada keterlibatan kepala sekolah yang membocorkan jawaban soal UN. Pembocoran jawaban soal UN dilakukan kepala sekolah, karena tidak ingin banyak anak didiknya yang tidak lulus UN, sehingga sekolah tersebut turun citranya di mata masyarakat.
Apa yang dilakukan kepala seolah ini seharusnya membuka mata kita semua bahwa ada upaya-upaya menutupi kebobrokan mutu pendidikan oleh orang-orang yang seharusnya menjadi orang terdepan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Yang dilakukan para kepala sekolah yang membocorkan jawaban soal UN tersebut tentunya akan membuat kualitas pendidikan di Indonesia semakin terpuruk. Apalagi, jika hal itu dilakukan oleh kepala sekolah di daerah yang kualitas pendidikannya masih sangat rendah. Akibatnya, kualitas pendidikan akan semakin turun.
Menghadapi era globalisasi seperti sekarang ini, kita harus sadar kualitas bangsa Indonesia harus semakin ditingkatkan. Jika tidak, maka pekerja-pekerja asing akan menguasai negeri kita. Mereka akan menduduki posisi-posisi penting, sementara orang Indonesia hanya sebagai karyawan biasa.
Kualitas pendidikan yang rendah membuat bangsa ini tidak mampu bersaing dengan bangsa lain. Tentunya, kita tidak ingin bangsa ini kalah bersaing dengan bangsa lain. Kualitas pendidikan di negeri ini jangan kita biarkan terpuruk hanya karena ingin menjaga gengsi sekolah dengan memberikan bocoran soal ujian UN kepada para murid. Memberikan pendidikan yang benar saja belum tentu meningkatkan kualitas murid sekolah, apalagi mengajari mereka berbuat curang, hanya demi nama sekolah. Buatlah nama sekolah terkenal karena mutunya, bukan karena berhasil meluluskan muridnya dalam jumlah banyak, padahal kualitasnya rendah.
Belum kering ludah kita berbicara tentang peradaban bangsa yang pada ujungnya menimbulkan krisis multidimensi melanda negara ini, hingga membuat kita sadar bahwa selama ini kita memang jauh dari pendidikan karakter. Pendidikan karakter sangat penting bagi bangsa yang mengaku santun ini, walau.sesungguhnya jauh dari essensi santun. Mari kita melebarkan mata sejenak untuk menatap lurus ke depan, berapa banyak penegak hukum yang justru dihukum, berapa banyak pelayan publik yang justru minta dilayani. Ini semua akibat dari pendidikan karakter yang terabaikan.
Akibat tidak adanya pendidikan karakter, tidak heran bila pengambil kebijakan, selalu mengambil kebijakan yang tidak bijak, apalagi pembodohan masyarakat juga dipamerkan secara sistematis oleh mereka calon pengambil kebijakan. Dan tidak jarang sebagian besar masyarakat kita masih terbuai dengan janji-janji para calon pengambil kebijakan jika mereka terpilih maka kehidupan akan lebih baik untuk semua orang.
Sesungguhnya permasalahan tersebut diatas dimulai dari pendidikan yang dienyam di bangku sekolah di Indonesia jauh dari karakter bangsa. Pihak pemerintah selaku pembuat kebijakan pendidikan dan pihak tenaga pendidik selaku pelaksana kebijakan belum mengajarkan banyak pelajaran penting soal karakter kepada anak didiknya.
Menurut penulis, dalam melaksanakan pendidikan karakter, paling utama yang sekolah harus ajarkan ke semua peserta didik adalah semangat untuk maju yang ditandai dengan semangat untuk belajar. Sekolah semestinya memperingatkan para peserta didik bahwa hidup mereka sebagai individu ataupun sebagai masyarakat tidak akan pernah mencapai kemajuan berarti bila mereka tidak berusaha keras untuk senantiasa belajar hal-hal baru dan bekerja giat untuk mendapatkan apa yang mereka impikan.
Realita yang ada selama ini justru malah jauh panggang dari api dan membuat kita “ngelus dada” (kebangeten : meminjam kata-kata ibu saya). Mental sebagian besar masyarakat kita terkooptasi pengambil kebijakan, yaitu ingin mendapatkan sesuatu dengan cara yang mudah. Oleh karena itu seringkali kita melupakan segala aturan main dan menghalalkan segala cara, tak peduli melanggar aturan dan norma. selama bisa mencapai segala sesuatu dengan cara mudah, “why not”, miris mendengarnya.
Hal tersebut diatas ditandai dengan pembiaran perilaku mencontek saat UN dan berlanjut dengan perilaku korupsi dan kolusi di dunia kerja. Bangsa kita sangat mendambakan kehidupan bak negeri seribu satu malam, dimana sebuah “lampu aladin” menjadi pemecahan segala masalah. Tidak seperti bangsa lain dimana pendidikan diperlukan kerja keras, pantang menyerah tidak mengenal putus asa, dan itu sudah ditanamkan sejak usia dini. Para orangtua dan guru, bahu membahu melatih anak-anak bangsa mereka untuk bisa mandiri, bertanggungjawab, dan memecahkan masalah mereka sendiri.
Demikian sambutan dari saya, semoga Hardiknas menjadi momentum terlaksananya pendidikan karakter. Apabila ada kesalahnan dalam penyampaian saya mohon maaf.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
TANGGAL 3 MEI 2010
Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk melaksanakan Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Pada kesempatan yang baik ini kita gunakan pula untuk mengadakan silaturahim kekeluargaan sejawat di lembaga yang kita cintai ini.
Hadirin yang saya hormati!
Setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, yang sering disingkat dengan Hardiknas. Untuk tahun ini Hardiknas mengambil tema Pendidikan Sains, Teknologi dan Seni Menjamin Pembangunan Berkelanjutan dan Meningkatkan Daya Saing Bangsa.
Tanggal 2 Mei adalah hari kelahiran Ki Hajar Dewantara, yang lahir di Yogyakarta tanggal 2 Mei 1889. Ki Hajar Dewantara adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia dan pendiri Perguruan Taman Siswa. Lembaga pendidikan yang didirikannya itu merupakan tempat bagi pribumi untuk mendapatkan pendidikan seperti yang diperoleh para priayi serta masyarakat Belanda di Indonesia.
Melihat tema yang ditampilkan pada Hardiknas kali ini, kita sebenarnya bangga dengan keberhasilan anak-anak bangsa yang telah banyak meraih medali emas dalam berbagai olimpiade sains di luar negeri. Anak-anak Indonesia tidak kalah dan bahkan sering menjadi yang terbaik dalam setiap olimpiade sains yang diselenggarakan berbagai badan internasional.
Sayangnya, hingga saat ini mutu pendidikan di Indonesia belum merata. Kita tidak mungkin bisa menyamakan kualitas pendidikan di Papua dengan di Surabaya. Atau, Kalimantan dengan Bandung atau perbandingan lainnya. Bahkan, dalam satu provinsi saja, kualitas satu sekolah dengan sekolah lainnya sangat jauh perbedaannya. Oleh karena itu, kita bisa maklum di perguruan tinggi tertentu mahasiswanya hanya berasal dari sekolah tertentu pula, karena di sini kualitas menjadi yang utama.
Dalam ujian nasional (UN) yang sudah berlangsung untuk tingkat SMA dan SMP, belum lama ini, tentunya kita terenyuh mendengar ada keterlibatan kepala sekolah yang membocorkan jawaban soal UN. Pembocoran jawaban soal UN dilakukan kepala sekolah, karena tidak ingin banyak anak didiknya yang tidak lulus UN, sehingga sekolah tersebut turun citranya di mata masyarakat.
Apa yang dilakukan kepala seolah ini seharusnya membuka mata kita semua bahwa ada upaya-upaya menutupi kebobrokan mutu pendidikan oleh orang-orang yang seharusnya menjadi orang terdepan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Yang dilakukan para kepala sekolah yang membocorkan jawaban soal UN tersebut tentunya akan membuat kualitas pendidikan di Indonesia semakin terpuruk. Apalagi, jika hal itu dilakukan oleh kepala sekolah di daerah yang kualitas pendidikannya masih sangat rendah. Akibatnya, kualitas pendidikan akan semakin turun.
Menghadapi era globalisasi seperti sekarang ini, kita harus sadar kualitas bangsa Indonesia harus semakin ditingkatkan. Jika tidak, maka pekerja-pekerja asing akan menguasai negeri kita. Mereka akan menduduki posisi-posisi penting, sementara orang Indonesia hanya sebagai karyawan biasa.
Kualitas pendidikan yang rendah membuat bangsa ini tidak mampu bersaing dengan bangsa lain. Tentunya, kita tidak ingin bangsa ini kalah bersaing dengan bangsa lain. Kualitas pendidikan di negeri ini jangan kita biarkan terpuruk hanya karena ingin menjaga gengsi sekolah dengan memberikan bocoran soal ujian UN kepada para murid. Memberikan pendidikan yang benar saja belum tentu meningkatkan kualitas murid sekolah, apalagi mengajari mereka berbuat curang, hanya demi nama sekolah. Buatlah nama sekolah terkenal karena mutunya, bukan karena berhasil meluluskan muridnya dalam jumlah banyak, padahal kualitasnya rendah.
Belum kering ludah kita berbicara tentang peradaban bangsa yang pada ujungnya menimbulkan krisis multidimensi melanda negara ini, hingga membuat kita sadar bahwa selama ini kita memang jauh dari pendidikan karakter. Pendidikan karakter sangat penting bagi bangsa yang mengaku santun ini, walau.sesungguhnya jauh dari essensi santun. Mari kita melebarkan mata sejenak untuk menatap lurus ke depan, berapa banyak penegak hukum yang justru dihukum, berapa banyak pelayan publik yang justru minta dilayani. Ini semua akibat dari pendidikan karakter yang terabaikan.
Akibat tidak adanya pendidikan karakter, tidak heran bila pengambil kebijakan, selalu mengambil kebijakan yang tidak bijak, apalagi pembodohan masyarakat juga dipamerkan secara sistematis oleh mereka calon pengambil kebijakan. Dan tidak jarang sebagian besar masyarakat kita masih terbuai dengan janji-janji para calon pengambil kebijakan jika mereka terpilih maka kehidupan akan lebih baik untuk semua orang.
Sesungguhnya permasalahan tersebut diatas dimulai dari pendidikan yang dienyam di bangku sekolah di Indonesia jauh dari karakter bangsa. Pihak pemerintah selaku pembuat kebijakan pendidikan dan pihak tenaga pendidik selaku pelaksana kebijakan belum mengajarkan banyak pelajaran penting soal karakter kepada anak didiknya.
Menurut penulis, dalam melaksanakan pendidikan karakter, paling utama yang sekolah harus ajarkan ke semua peserta didik adalah semangat untuk maju yang ditandai dengan semangat untuk belajar. Sekolah semestinya memperingatkan para peserta didik bahwa hidup mereka sebagai individu ataupun sebagai masyarakat tidak akan pernah mencapai kemajuan berarti bila mereka tidak berusaha keras untuk senantiasa belajar hal-hal baru dan bekerja giat untuk mendapatkan apa yang mereka impikan.
Realita yang ada selama ini justru malah jauh panggang dari api dan membuat kita “ngelus dada” (kebangeten : meminjam kata-kata ibu saya). Mental sebagian besar masyarakat kita terkooptasi pengambil kebijakan, yaitu ingin mendapatkan sesuatu dengan cara yang mudah. Oleh karena itu seringkali kita melupakan segala aturan main dan menghalalkan segala cara, tak peduli melanggar aturan dan norma. selama bisa mencapai segala sesuatu dengan cara mudah, “why not”, miris mendengarnya.
Hal tersebut diatas ditandai dengan pembiaran perilaku mencontek saat UN dan berlanjut dengan perilaku korupsi dan kolusi di dunia kerja. Bangsa kita sangat mendambakan kehidupan bak negeri seribu satu malam, dimana sebuah “lampu aladin” menjadi pemecahan segala masalah. Tidak seperti bangsa lain dimana pendidikan diperlukan kerja keras, pantang menyerah tidak mengenal putus asa, dan itu sudah ditanamkan sejak usia dini. Para orangtua dan guru, bahu membahu melatih anak-anak bangsa mereka untuk bisa mandiri, bertanggungjawab, dan memecahkan masalah mereka sendiri.
Demikian sambutan dari saya, semoga Hardiknas menjadi momentum terlaksananya pendidikan karakter. Apabila ada kesalahnan dalam penyampaian saya mohon maaf.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Langganan:
Komentar (Atom)